Freeman yang bukan Preman

27Apr08

Freeman. Dari kata inilah muncul istilah preman. Istilah preman selalu terkait dengan konotasi negatif. Penjahat, brutal, kriminal. Namun freeman bukanlah preman.

Menurut Wiki, freeman adalah “one who is not a serf or slave“. Seseorang yang bukan menjadi pelayan atau budak. Seseorang yang menjadi tuan atas dirinya sendiri. Seseorang yang merdeka.

Suatu situasi atau status dimana setiap orang pasti mengidamkannya. Termasuk saya. Situasi dimana seseorang bebas mengekpresikan dirinya. Bebas berkarya. Bebas beraktualisasi diri. Bebas menentukan langkah nasib kehidupannya. Sounds good….

Namun, apa itu bebas? Apa itu kebebasan? Apakah ada kebebasan absolut bagi seorang manusia?

Bagi saya yang bermimpi menjadi freeman, kebebasan adalah tanggungjawab. Kebebasan bukanlah sebuah hak. Kalau saya sudah berteriak, atau membubuhkan stempel bebas pada jidat saya, maka semenjak itulah rantai tanggungjawab membelit leher saya. Bebas, tapi tidak bebas.

Jika saya sudah berani menyatakan bebas untuk berekspresi, maka saya harus mampu menunjukkan karya saya. Karya yang bermanfaat bagi semua orang. Bukan karya yang hanya memuaskan hasrat diri sendiri.
Jika saya sudah berani gagah beraktualisasi diri, maka saya harus mampu merubah nasib. Nasib untuk orang banyak, bukan hanya nasib diri sendiri.

Fly like a bird. Burung bebas terbang ke langit, kemana saja dengan sayap yang dianugerahi oleh Tuhan. Namun burung tak pernah lupa untuk kembali ke darat. Tak lupa untuk menyebar biji-bijian sembari mengisi perutnya. Tak lupa untuk mematuki serangga-serangga hama di sawah ladang.

Flow like a water. Air dianugerahi keleluasaan bentuk, untuk mengalir kesegala arah. Mengisi kesegala celah, ceruk, retakan. Menguap, melayang di atmosfer paling tinggi. Dingin membeku di bumi paling ujung. Namun air tak pernah lupa untuk memuaskan dahaga mahluk lain. Tak pernah lupa untuk menumbuhkan sekeping biji ditengah gersang padang pasir.

Saya belumlah menjadi seorang freeman. Masih menjadi seorang pelayan atau bahkan budak untuk banyak orang. Namun setidaknya saya selalu berharap dan berdoa, sendainya nasib saya selalu menjadi budak, setidaknya bukan sebagai budak yang sombong dan lupa daratan…



No Responses Yet to “Freeman yang bukan Preman”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: