Cermin

Kang Bas

Dianugerahi nyawa pertama kali di Semarang. Tuhan menitipkanNya melalui Ibu dan Bapak yang penuh kasih hingga usia senja. Ibu yang tidak pernah lelah mendidik anaknya. Ayah yang tidak pernah marah jika raport anaknya merah.

Dipinjami nyawa untuk keduakalinya di Karimunjawa. Tuhan mengulurkan tanganNya melalui seorang nelayan kapal Sumber Urip, dari Pekalongan. Mengangkat saya dari gelombang lautan, ditengah puing-puing pecahan kapal.

Dianugerahi karunia nikmat oleh Tuhan yang tak terukur jumlahnya.
Nikmat kegundahan, saat teman datang dan pergi silih berganti.
Nikmat kegelisahan, tatkala muara hati yang tak bertepi.
Nikmat kebodohan, yang mempertemukan pada guru-guru mumpuni.
Nikmat kesusahan, yang mempertautkan dengan sahabat sejati.
Nikmat kesengsaraan, saat lupa atas karunia kebahagiaan.

Sepasang kaki yang membawa jasad ini pergi berkelana.
Sepasang mata yang memperlihatkan ketakjuban alam.
Sepasang telinga yang memperdengarkan merdunya kicau burung.

Apakah kiranya masih pantas bagi saya untuk berkeluh kesah, atas semua karunia nikmat yang telah dianugerahkan?


%d bloggers like this: